Pertemuan pertama kita mungkin tampak seperti kebetulan, dan perpisahan sempat memberi jarak yang sunyi. Namun, di hadapan takdir, tidak ada yang benar-benar hilang. Di antara hiruk-pikuk jalanan pagi dan riuhnya rutinitas kerja, tangan-tangan takdir bekerja dengan cara yang ajaib—membuat langkah kita berulang kali saling berpapasan, seolah memaksa kita untuk saling menoleh kembali. Tuhan tidak pernah keliru menuliskan alamat. Komunikasi yang kembali terajut adalah jawaban bahwa kita memang diciptakan untuk satu sama lain. Hanya dua bulan sejak hari lamaran, kami dengan penuh keyakinan menjemput takdir suci ini menuju ikatan pernikahan.