Moment
Kami bersyukur, dipertemukan Tuhan diwaktu terbaik, Kini kami menanti hari istimewa kami.
Story
Semuanya bermula di depan kelas sekolah menengah pertama. Saat itu, dunia terasa begitu sederhana. Di tengah riuhnya jam istirahat, mataku tertuju pada satu sosok: Amanda.
Tidak butuh waktu lama bagi perasaan remaja ini untuk tumbuh. Kami memutuskan untuk menjalani hubungan yang orang bilang “cinta monyet”. Namun, layaknya kisah remaja pada umumnya, ego dan kedewasaan yang belum matang membuat jalan kami harus bercabang. Kami pun berpisah, menyimpan nama satu sama lain jauh di lubuk hati, mengira bahwa itu adalah akhir dari segalanya.
Â
Tahun berganti, seragam berubah. Tak disangka, takdir ternyata punya rencana yang lebih besar. Di tengah kesibukan di bangku kuliah, garis hidup kami bersilangan kembali.
Amanda yang kutemui sekarang sudah menjadi sosok perempuan dewasa yang semakin memesona. Kami pun sadar, rasa yang dulu pernah ada ternyata tidak benar-benar hilang, melainkan hanya tertidur. Di masa kuliah inilah, kami memutuskan untuk kembali bersama—kali ini dengan komitmen yang lebih kuat dan visi yang lebih jelas.
Melewati masa kuliah dan sekarang bekerja membuat kami sadar bahwa kami adalah tim yang hebat. Setelah melewati berbagai suka dan duka, aku tidak ingin lagi kehilangan dia untuk kedua kalinya.
Momen lamaran pun tiba—sebuah janji serius untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang abadi. Dan hari ini, di depan saksi dan keluarga, perjalanan panjang dari seragam SMP itu akhirnya berlabuh di pelaminan. Dari teman sekolah, dan kini menjadi pasangan hidup selamanya.
“Ternyata, sejauh apa pun kita melangkah, rumah yang paling nyaman untuk pulang adalah kamu, Amanda.”





